Minggu, 07 November 2010

M. FUAD RAHMAN ( KAYLA UNTARA )

Senin, 8 November 2010

Kayla Untara (Muhammad FR.) ini, nongol di dunia pada tanggal 22 September di Kandangan atau tepatnya di desa Hamalau. Ayahnya (Ch. Abadi atau lebih dikenal dengan panggilan Om Uril…) adalah seorang budayawan asli dari ‘Yogya’-nya Kalsel.
Lelaki yang menyukai warna hitam ini mulai aktif berkesenian sejak duduk di bangku SD. Seabrek prestasi telah diboyongnya. Sejak umur 9 tahun-an (sewaktu ia masih kelas 3 SD), hingga memasuki bangku STM dia beberapa kali meraih juara 1 dalam lomba baca/deklamasi puisi se-banua lima maupun tingkat propinsi, pernah menjadi salah satu perwakilan Kalsel dalam lomba lukis tingkat SMP se-Indonesia di Surabaya. Pernah mengikuti festival theater se-Indonesia Timur di Banjarmasin, terlibat dalam berbagai pergelaran theater baik di Banjarmasin maupun di kota lainnya bersama sanggar posko la-Bastari. Sewaktu masih di STM, pernah mengikuti lomba theater se-banua lima (ketika itu ia sebagai sutradara sekaligus pemain) dalam rangka Rampai Muharram di Kandangan, dan dia membawa sekolahnya sebagai peraih juara satu.
Selain seabrek prestasi di atas, pemuda yang hobi melukis karikatur ini juga aktif menulis sejak awal tahun 2000 hingga sekarang. Sejumlah tulisannya baik berupa puisi, cerpen, dan artikel pernah dimuat di tabloid Gerbang, SKH Banjarmasin Post, SKH Radar Banjarmasin, SKH Media Kalimantan dan SKM Serambi Ummah. Sering mengikuti diskusi dan workshop penulisan cerpen baik di Banjarmasin maupun di Kandangan. Mengikuti pertemuan kongres cerpen (se Indonesia Timur?) di Banjarmasin. Puisi dan cerpennya juga telah dibukukan dalam beberapa antologi bersama semisal dalam buku La Ventre de Kandangan, Orkestra Wayang (kumcer), dan Do’a Pelangi Di Tahun Emas (Antologi puisi). Saat ini juga aktif berbagi tulisan baik puisi, cerpen, dan catatan ringan di media jejaring sosialnya (facebook) serta blog pribadinya dengan nama yang sama (e-mail; kayla.untara@rocketmail.com). Prestasinya dalam dunia tulis menulis yang baru-baru ini diterimanya adalah menjadi nominasi terbaik kedua dalam lomba penulisan cerpen bahasa banjar di tahun 2010 dalam rangka aruh sastra Kalimantan Selatan VII di Tanjung dan nominasi terbaik kedua dalam lomba penulisan puisi yang diselenggarakan FLP Banjarmasin beberapa waktu lalu.
“Jangan sampai terlambat mengatakan sesuatu” katanya. Seorang ayah yang sedang menantikan buah hati yang kedua ini sekarang menetap di . Jl. Trikesuma. Kampung Qadi Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah bersama mantan pacar dan putra tercintanya.


IMRAATUL JANNAH

Senin, 8 November 2010



Lahir di Kandangan, 2 Mei 1982. Masih meneruskan studinya di Pondok Pesantren Drussalam Martapura dan bergabung di Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Menulis puisi sejak tahun 1995,namun baru berani mempublikasikannya pada tahun 2000. Publikasi karyanya pada Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni di RRI Nusantara III Banjarmasin, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin dan Tabloid Budaya Serambi Ummah Banjarmasin. Antologi puisinya antara lain Epilog Hari Ini (2002), Jika Cinta Telah Menyapa (2004), antologi bersama antara lain Potret Tiga Warna (2000), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bulan Ditelan Kutu (2004) dan Bumi Menggerutu (2005).Dalam menulis sering menggunakan nama pena Annisa.

BURHANUDDIN SOEBELY

Senin, 8 November 2010


Lahir di Kandangan, 12 Januari 1957. Menulis sejak 1979. Publikasi karyanya antara lain di media cetak : Banjarmasin Pot,Media Masyarakat, Berita Nasional (yogya),Pelita (Jakarta),Berita Buana (Jakarta),dan lain –lain.Antologi Puisinya : Palangsaran (1982),Patilarahan (1987) daqn Ritus Puisi (2000). Antologi bersama Puisi Indonesia 87 ( DKJ,TIM Jakarta 1987), dan Pertival PuisiXIII (PPIA-FASS, Surabaya, 1992 ). Tiga novelnya, Reportasi Rawa Dupa,Seloka Kunang-Kunang, dan Konser Kecemasan, merupakan Pemenang II Sayembara Penulisan Cerita Bersambung Majalah Femina Tahun 1997,1998, dan 2001. Novelnya yang lain antara lain :Biru Langit, Biru Hati ( B.Post,1979), Serenada Tnaha Bencana (B.Post,1991 dan lain – lain.Dia aktif di dunia teater. Bersama kelompok teaternya La Bastari, telah bergelar dan mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat Tingkat Nasional,Festival Teater Anak ,di beberapa kota Indonesia. Pernah mengikuti Pesta Gendang Nusantara 6 di Malaka, Malaysia (2003). Banyak naskah teater yang ditulisnya antara lain : Parantunan (1983), Kembang Darah (1983, Roh Bukit Kehilangan Bukit (2000) dan Repoertoar Roh Bukit (2002 ).

IWAN YUSI

Senin, 8 November 2010



LEBIH DEKAT DENGAN IWAN YUSI
GURU HSS SPESIALIS LOMBA MENULIS
BUKUNYA PERNAH JADI DUTA INDONESIA

Kepiawaiannya dalam menulis dapat dilihat dari banyaknya karya yang telah diterbitkan, puluhan judul buku ditambah dengan beberapa cerpen yang dimuat di beberapa majalah anak dan puisi-puisi yang ikut menghiasi buku antologi puisi bersama penyair Kalimantan Selatan.

Iwan Yusi, S.Pd adalah guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Kandangan. Ia sudah menulis sejak duduk dibangku SMP. Menulis merupakan bagian dari kebtuhan hidupnya.

" Tulisan pertama saya berupa puisi," ujar ayah dari Amelia Astuti, Muhammad Ryan Firdaus, dan Muhammad Abrar ini.

Iwan Yusi menamatkan sarjana pendidikannya di Universitas Terbuka. Sejak di SMP ia sudah berani mengirimkan puisinya ke kolom Dahaga SKH Banjarmasin Post. Ketika SMA ia telah membukukan berbagai tulisannya di koran yang sama dalam bentuk esai.

Melalui majalah dinding di sekolah Iwan Yusi membina siswanya dalam bidang tulis-menulis. Suami Normiyati ini juga turut berpartisipasi dalam menyusun silabus dan modul mata pelajaran muatan lokal yang dikoordinir oleh Dinas Pendidikan Kalimantan Selatan.

Dari pengalamannya mengikuti lomba-lomba menulis, Iwan mungkin pantas dijuluki spesialis lomba menulis. Dilihat dari hasil karya yang diperolehnya, pria yang lahir pada tanggal 2 Desember 1960 ini boleh berbangga hati. Dari 11 kali keikutsertaannya dalam sayembara penulisan Naskah Buku Bacaan yang diadakan Pusat Perbukuan, 6 kali naskahnya berhasil menjadi juara I tingkat nasional. Salah satu bukunya, Mungkur Kambing pernah terpilih menjadi Duta Indonesia pada Sayembara Naskah Buku Tingkat Internasional yang diselenggarakan UNESCO pada tahun 1998. Pada tahun yang sama bukunya yang berjudul Kabut Murung Kayu mendapat penghargaan Adikarya IKAPI.

Pengalamannya mengikuti lomba membuat Iwan sering ditunjuk menjadi juri pada lomba-lomba penulisan di Kabupaten HSS, maupun Kalimantan Selatan.

Kecintaannya pada karya sastra ditularkan kepada orang-orang disekelilingnya, terutama anak didiknya. Hal ini dilakukan melalui berbagai lomba di sekolah, baik resensi buku berhadiah maupun lomba menulis cerpen. Dalam satu semester dia mengharuskan siswanya menuntaskan sejumlah judul buku untuk dibaca.

" Saya menyukai karya sastra karena melalui karya sastra saya dapat memberikan sumbangan pada sektor pendidikan dan nilai-nilai moral sekaligus sebagai sarana rekreatif," katanya.

Bukunya yang berjudul Mungkur Kambing dan Kabut Murung Kayu yang bercerita tentang lingkungan akan difilmkan sehingga dapat ditonton oleh masyarakat. Melalui film itu masyarakat dapat melihat keadaan lingkungan hidup saat ini.

" Tunjukkan aktivitas membaca anda kepada anak didik sebagai modal. Rajinlah berlatih menulis, ikutilah sayembara-sayembara. Dengan berkarya tulis anda tidak saja mudah mengajar di kelas tetapi juga mudah mendidik anak bangsa dimanapun di tanah air tercinta ini," pesannya kepada insan pendidik.

GALERI FOTO

Senin, 8 November 2010

SASTRAWAN HULU SUNGAI SELATAN DALAM SEBUAH KEGIATAN

Minggu, 31 Oktober 2010

AKHMAD HUSAINI

Senin, 1 November 2010



Lahir di Angkinang, Kandangan , 18 Nov 1979. Mulai menulis sejak 1996 saat masih di MAN 2 Kandangan. Karyanya dimuat antara lain di BBC London siaran Bahasa Indonesia, Radio Australia, RRI Nusantara II Banjarmasin, SKM Media Masyarakat, Gawi Manuntung, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Buletin Beritahifi Jakarta, Tabloid Bola, Gerbang, Gaya Hidup Sehat. Kegiatan sastra pernah mengikuti diskusi Bulan Sastra Hijaz Yamani dalam pergaulan Sastra (2003), Aruh Sastra I Kalsel di Kandangan (2004), Workshop Penulisan Cerpen KCI V Indonesia di Banjarmasin (2007), Aruh Sastra IV Kalsel di Amuntai (2007), Aruh Sastra V Kalsel di Balangan (2008).